Rabu, 27 Desember 2017

Keteladanan Ali bin Abi Thalib








Setelah mengamati video di atas, sekarang pelajari materi dibawah ini!






Khalifah keempat setelah Utsman bin Affan adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib. Ia adalah anak paman Rasulullah Saw, bertemu dengan nasabnya pada kakeknya, Abdul Muthalib bin Hasyim, yang memiliki anak bernama Abu Thalib saudara laki-laki kandung Abdullah, bapak Nabi Muhammad Saw. Adapun silsilah Ali bin Abi Thalib bertemu dengan silsilah Nabi Muhammad Saw dapat dilihat dalam bagan
berikut ini!
          Garis keturunan Ali bin Abi Thalib bertemu dengan Rasulullah saw



Nama yang diberikan kepada Ali pada saat kelahirannya adalah As’ad (singa). Nama tersebut hasil pemberian sang ibu sebagai kenangan dari nama bapaknya yangbernama As’ad bin Hasyim. Ketikaputranya lahir, Abu Thalib saat itu tidak ada ditempat. Setelah ia tahu nama pemberian sang ibu kepada buah hatinya adalah As’ad, ia
merasa kurang tertarik dengan nama tersebut, maka kemudianmenggantinya dengan nama Ali.
Menurut Ibnu Ishaq, Ali bin Abi Thalib dilahirkan 10 tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw menjadi nabi. Ali mempunyai beberapa julukan, diantaranya;
Abul Hasan, yaitu dinasabkan kepada anaknya yang paling besar, Hasan. Selain itu juga dijuluki Abu Turab, yaitu julukan pemberian Rasulullah Saw. dan Ali merasa senang jika dipanggil itu. Ada juga julukan lain adalah Abul Hasan wal Husain, Abul Qashim AlHasyimi, dan Abu As-Sabthaini. Ali memiliki gelar Amirul Mukminin.
Ali mempunyai tiga saudara kandung laki-laki, yaitu: Thalib, Ukail, Ja’far, dan dua saudara kandung perempuan, yaitu: Ummu Hanik dan Jumanah. Sedangkan istri Ali adalah Fathimah binti Rasulullah Saw. Dari pernikahannya dengan Fathimah mempunyai empat anak, yaitu: Hasan, Husain, Zainab Al-Kubra, dan Ummu Kultsum Al-Kubra. Ali bin Abi Thalib masuk Islam saat setelah keislaman istri Rasulullah Saw., Khadijah. Ia adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak-anak.

Kepribadian Khalifah Ali bin Abi Thalib

1. Cinta ilmu
Ali bin Abi Thalib tercatat sebagai ulama para sahabat senior. Ia dikenal dengan kesungguhannya dalam mengejar cita-cita dan kehati-hatiannya dalam menerima ilmu. Ali memiliki lisan yang senantiasa gemar bertanya untuk mencari ilmu, dan tidak pernah menyia-nyiakan untuk selalu berada di sisi Nabi Muhammad Saw
Ali bin Abi Thalib menjelaskan sebab kedalaman dan keluasan ilmu yang Allah karuniakan kepadanya bahwa hal itu karena ia dapatkan dari Rasulullah dengan suka bertanya. Ia berkata, “Apabila aku bertanya, maka aku diberikan apa yang aku tanyakan tersebut. Dan apabila aku diam, maka aku pun tidak mendapatkan sesuatu.” Dalam keadaan tertentu, ketika Ali merasa malu kepada Rasulullah padahal ia ingin bertanya kepada beliau, maka ia pun meminta kepada salah seorang sahabat yang lain agar menanyakan apa yang ia inginkan tersebut kepada Rasulullah Saw.
Kemudian nasehat Ali bin Abi Thalib kepada Kumail bin Ziyad tentang perbandingan ilmu dan harta patut menjadi renungan bagi kita. Perhatikan nasehatnya berikut:

 “ Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga dari pemiliknya, sementara harta minta dijaga oleh pemiliknya. Ilmu semakin bertambah dengan diamalkan, sementara harta makin berkurang dengan disedekahkan. Ilmu menjadi penguasa, sementara harta dikuasai. Kebaikan yang didasarkan pada harta seseorang akan hilang seiring habisnya harta tersebut, sedangkan kecintaan terhadap orang yang berilmu tak akan habis meski orang yang berilmu tersebut telah tiada selama ilmunya diamalkan"


2. Kezuhudan
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah manusia yang tumbuh dan berkembang dalam didikan cahaya Kitabullah, Al-Quran. Hal tersebut dapat dipahami karena kedekatannya dengan Nabi Muhammad Saw, kebersamaannya dengan sahabat, dan kemampuannya merenungi hakekat kehidupan dunia ini bahwa hakekat kehidupan adalah ujian dan cobaan.
3. Tawadhu’
Kepribadian lain Ali bin Abi Thalib yang patut ditiru adalah tawadhu’. Hal ini ditunjukkan dalam kisah berikut ini!
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa suatu ketika ia membeli kurma dengan satu dirham kemudian ia menggendongnya sendiri kurma tersebut. Melihat hal itu, maka para sahabat berkata, “Kami saja yang membawakan untuk engkau wahai Amirul Mukminin.” Ia menjawab, “Tidak usah. Abu Iyal lebih berhak untuk membawanya.”

Dari kisah tersebut menunjukkan sikap ketawadhuan Ali, ia rela membawa sendiri barang-barang yang dibelinya padahal ketika itu ia adalah Amirul Mukminin dan sahabat Rasulullah yang telah mencicipi banyak pengalaman. Ia tidak menerima tawaran dari pihak lain untuk meringankan beban yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan sikap ini Ali telah memberikan contoh dari sikap tawadhu kepada segenap kaum muslimin


4. Dermawan
Diantara akhlak al-Quran yang menyatu dalam diri Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah dermawan dan murah hati. Perhatikan kisah berikut ini!

Al Hafidz Ibnu Katsir meriwayatkan dari Al-Asbagh bin Nabatah,
bahwa ada seseorang datang menemui Amirul Mukminin Ali bin
Abi Thalib, ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya memiliki kebutuhan terhadap dirimu. Saya telah mengadukan kebutuhan saya
tersebut kepada Allah sebelum saya mengadukannya kepada engkau. Jika engkau memenuhinya, maka saya akan memuji Allah dan
berterima kasih kepada engkau. Jika engkau tidak memenuhinya,
maka saya hanya akan memuji Allah dan kepada engkau saya hanya
akan meminta maaf.” Mendengar hal itu Ali bin Abi Thalib berkata,
“Tuliskanlah apa yang menjadi kebutuhanmu di atas tanah. Saya tidak ingin melihat tanda-tanda kehinaan sebagai peminta-minta ada
dalam wajahmu.” Ia lalu menuliskan: “Sesungguhnya saya adalah
orang yang sedang membutuhkan.” Setelah itu berkata kepadaku,
“Saya membutuhkan pakaian.” Kemudian tak lama didatangkanlah
sehelai pakaian untuknya. Lalu diambillah pakaian itu oleh orang
.tersebut dan kemudian dipakainya"


5. Rajin Beribadah
Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib benar-benar mempraktikkan arti ibadah secara utuh dalam kehidupannya. Ia dikenal dengan istiqamahnya dalam mengerjakan shalat malam hingga dikawal sebagai ahli shalat tahajud. Perhatikan kisah berikut ini!

Menurut Dhirar bin Dhumairah Al-Kinani menjelaskan mengenai
Ali bin Abi Thalib kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia berkata,
“Ali adalah sosok sahabat Rasulullah yang tidak terkesima dengan
kehidupan dunia. Ia lebih senang berkawan dengan malam dan keheningannya. Saya bersaksi kepada Allah, saya telah menyaksikan
berbagai sikap hidupnya; ia melepaskan malam dari tirai-tirainya,
ketika bintang-bintang terbenam ia berdiri meliuk di mihrabnya,
tenggelam dalam tangis kesedihan, dan seolah sekarang saya mendengarnya sedang berkata, “Ya Rabbana, ya Rabbana”. Dia sedang
merundukkan diri kepada-Nya dan berkata kepada dunia. “Wahai
dunia, terhadap diriku apakah engkau melakukan tipu daya atau
menjadi penghias yang memperindah. Saya menyatakan telah menjauhkan diri darimu, karena umurmu pendek, majelis penjamuanmu hina, dan kedudukanmu remeh. Celakalah orang-orang yang
bekalnya sedikit, karena perjalanan cukup jauh dan jalan sangat
“.menakutkan
       
Mendengarkan ungkapan tersebut, air mata Muawiyyah mengalir deras, ia tak kuasa menahannya dan hanya mengusapkannya dengan kain lengannya. Melihat keadaan itu, maka terbawalah kaum muslimin yang hadir hanyut dalam tangisan sedu mereka


Ayo Berlatih !

1. Silsilah Ali bin Abi Thalib bertemu dengan silsilah Rasulullan bertemu          dengan siapa? .......
2. Bagaimana kepribadian Khalifah Ali bin Abi Thalib yang dapat              diteladani bagi pelajar! ........
3. Langkah-langkah apa saja yang dilakukan Ali bin Abi Thalib saat            menjadi khalifah! .........

Wudhu


















Mengapa sebelum sholat harus berwudhu terlebih dahulu? 

Wudhu adalah membersihkan sebagian anggota badan dengan cara tertentu yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Wudhu berguna untuk menghilangkan hadas kecil.

Rukun Wudhu antara lain :
1.  Niat sambil mencuci tangan
2.Membasuh wajah
3.Membasuh kedua tangan sampai ke siku
4.Mengusap sebagian kepala
5.Membasuh kedua kaki sampai mata kaki
6.Tertib/berurutan





?